1400 tahun yang lalu tidak ada yang tahu tentang singularitas, namun hal itu digambarkan dalam Al-Quran.
Massa mendistorsi ruang-waktu. Semakin banyak materi yang jatuh ke dalam sebuah bintang, massanya akan bertambah; dan seiring bertambahnya massa, kepadatannya juga bertambah. Semakin padat sebuah bintang, semakin besar distorsi yang ditimbulkannya.
Semakin lama sebuah bintang hidup, semakin padat ia menjadi; dan semakin padat ia menjadi, semakin besar distorsi yang ditimbulkannya. Namun, distorsi ini mengarah ke singularitas. Jadi, semakin lama sebuah bintang hidup, semakin besar distorsi ruang-waktu yang ditimbulkannya menuju singularitas.
Singularitas adalah lokasi di masa depan bintang-bintang. Seorang pengamat yang jauh dari lubang hitam melihat peristiwa di dekat lubang hitam dalam gerakan lambat. Jika ia menyinari seberkas cahaya ke dalam lubang hitam ini, ia harus menunggu selamanya, tetapi berkas cahaya ini tetap tidak akan pernah mencapai singularitas.
Singularitas adalah lokasi di masa depan bintang-bintang di mana gravitasi menjadi sangat tidak terkendali sehingga ruang dan waktu menjadi tidak dapat dibedakan. Dari relativitas umum kita tahu bahwa ini adalah lokasi di mana struktur ruang-waktu menjadi singular (karena itu disebut singularitas). Namun singular (Ahad dalam bahasa Arab أَحَدٌ) adalah salah satu dari 99 nama Tuhan. Dalam Al-Quran, Tuhan bersumpah demi lokasi bintang-bintang yang ternyata membawa nama-Nya sendiri:
Aku bersumpah demi letak bintang-bintang, sungguh sumpah yang besar jika kamu mengetahuinya, itu adalah Al-Qur'an yang mulia
٧٥ فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ
٧٦ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ
٧٧ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
Di sini Tuhan bersumpah bukan atas bintang-bintang itu sendiri, melainkan atas lokasinya (mawakeh dalam bahasa Arab). Saat ini kita tahu bahwa bintang-bintang mendistorsi ruang-waktu ke arah singularitas, yang ternyata membawa nama Tuhan sendiri: "Ahad أَحَدٌ ".
No Code Website Builder